Sahabatku sukiman pernah cerita, dulu kakeknya punya sawah berhektar-hektar, menjadi lumbung padi bagi desanya yang asri…
kini semua sawah kakek si sukiman tinggalah kenangan.. berubah menjadi sebuah kompleks perumahan mewah, lengkap dengan lapangan golf, taman hiburan air , kolam renang, patung2 besar simbol kemegahan, supermarket yang mewah, dan terlebih dibatasi oleh pagar2 yang tinggi dengan satpam2 bertubuh besar yang galak…
kini sukiman dan keluarganya tinggal di sebuah tanah kecil dengan sebuah rumah kecil di sudut pagar perumahan itu, rumah sukiman tak ada jambannya. Sukiman berkerja sebagai petugas kebersihan di kompleks itu, bagi sukiman itu sudah cukup… kadang2 aku iri dengan sikap nerimo sukiman…
sukiman hanya pernah cerita, kalau kakek dan pamannya ditemukan meninggal sesaat sebelum si pemilik perumahan itu sekarang datang bersama seorang pria gemuk bersafari, dan seorang pria berseragam aparat keamanan, menyampaikan bahwa keluarga sukiman telah kalah di pengadilan, dan hak atas tanak tersebut jatuh ketangan mereka.

suatu hari saat sukiman mengeluh karena tidak bisa membiayai sekolah anaknya lagi, aku hampir saja mengajaknya untuk pergi membalas dendam pada si orang kaya itu, atau memprovokasi warga untuk menyerang perumahan tersebut, tapi aku mengurungkan niatku…, aku tak ingin merusak kesahajaan sukiman

aku hanya tak habis mengerti dengan keadilan dan logika berpikir para pelayan masyarakat di negeri ini…
tanah-tanah rakyat dirampas, dijadikan kompleks mewah, sementara mayoritas masyarakatnya berada dibawah garis kemiskinan, mana mungkin mereka bisa membeli perumahan itu…?
para petani tidak didukung dengan baik, hasil-hasil pertanian dalam negeri dibeli dengan harga murah, ditimbun oleh segelintir orang… sementara harga pupuk melonjak tinggi, harga bibit pun melonjak, san petani tercekik lalu tak mampu menanam lagi…. untuk itu mereka mengeluarkan kebijakan untuk mendatangkan pangan dari luar negeri, di jual dengan harga murah karena bea import kecil dan gampang untuk para pengusaha, makin matilah si petani lokal… lalu masuklah kita semua dalam jeratan import pangan selamanya…, bayangkan saja bila suatu saat negara yang menjual pangan pada kita tidak mau menjual lagi pada kita, maka matilah kita sebangsa setanah air ini karena kelaparan…. Tragis bukan…?
lain lagi kisah para pedagang di pasar tradisional yang digusur untuk mendirikan mall dan plaza2 untuk menjual barang merk2 luar negeri
atau, tidak usahlah kau tanyakan nasib para buruh dan kaum miskin perkotaan di negeri ini, semua punya kisah yang menyedihkan, tentang ketidak adilan saudara sebangsa dan setanah airnya

sore kemarin setelah hampir sebulan kami tidak bertemu, aku dan sukiman duduk minum kopi tanpa gula (bukan karena hobby, tapi karena gula sudah habis), di bangku kayu depan rumahnya. “sobat, anaku sakit, tapi aku tak punya uang membawanya kerumah sakit” kata sukiman dengan wajah sedih, seketika aku teringat wajah anaknya yang menyimpan kedewasaan seorang petapa, “aku punya man, kau pakai dululah” kataku sambil menyerahkan uang yang hendak kupakai untuk melunasi hutang2ku di kampus….

Sebelum aku pamit pulang Sukiman berbisik padaku “Sobat kenapa kau mau membantuku..?” aku tersenyum memandangnya
“itu karena kita sebangsa dan setanah air, Bangsa Yang Gandrung akan keadilan, berbahasa keadilan, bertanah air tanpa penindasan, bukankah itu cita2 kita….?” kataku

wajah sukiman telihat tetap serius, “mohon maaf lahir batin saudara sebangsa dan setanah airku, sobat setiaku” katanya

pagi ini kepala dan dadaku rasanya mau pecah, di antara ucapan2 selamat lebaran dari para pejabat pada koran lokal yang ku pegang, ada sebuah berita : Satu Keluarga Tewas Tertimbun Pagar Perumahan Mewah… Sukiman Saudara Sebangsa Dan Setanah airku telah tewas dibunuh…

(Abner Paulus Raya)

ini bukan ucapan selamat… ini peringatan
agar kekuasaan tak berujung pada kebablasan

boleh kau ambil mayoritas kertas suara bersetempelkan demokrasi
yang hingga hari ini ku anggap tak berarti
toh… di negeri ini banyak yang mati
mati kelaparan, mati menahan harap di negeri sendiri

ku kirimkan setiap jelmaan impian kaum papah untuk patahkan kesombonganmu
menari meliuk menahan cemas, perhatikan… mereka berharap menatapmu
jangan lagi kau kaku.. lekas angkat beban mereka kepundakmu
jangan leha lalu mengantuk di kursi istana empukmu

kukatakan padamu….
ini Bukan Ucapan selamat… ini peringatan
agar kekusaan tak berujung pada kebuasan

silahkan saja berjuta pemuka agama berdiri mendengar sumpahmu
taukah mereka suara rakyat adalah suara Tuhan…?
atau kau hanya pedulikan mereka yang dulu membantu…?
sekarang buas berebutan menghisap nikmatnya darah kekuasaan

sudahlah.. jangan tipu-tipu.., kami tahu siapa kau
coba pasang telingamu dengar apa yang kami mau
jangan kau anggap remeh walau kami bau
kami adalah kepalan kedaulatan yang menyatu hancurkan otak dan hati yang batu

sekali lagi kutekankan
Ini bukan ucapan selamat… INI PERINGATAN
agar jangan kau gunakan kekuasaanmu hanya untuk kepalsuan

AWAS… KAU

(abner Paulus)

Sajak Rombeng

Oktober 21, 2009

mumpung pagi ini jadwalnya tukang rombeng lewat… kukumpulkan kertas-kertas dan buku-buku tulis tak terpakai, ya… kalau sekilo Rp.1000 kan lumayan buat beli beberapa batang rokok untuk menemani buang air besar pagi ini (inilah kemerdekaan yang sesungguhnya.. waha..ha..ha)..
tetapi aku tercengang, setumpuk kertas berbagai macam bentuk dan ukuran terikat oleh sebuah pita berwarna biru yang sudah usang dan luntur.. aku ingat betul apa isi tumpukan kertas itu.. puluhan sajak jaman seragam merah-putih hingga kuning-biru ku.. sajak-sajak yang berisi cinta yang malu-malu hingga sajak yang berisi kemarahan tanpa kendali, buasss…

dalam tumpukan sajak itu… ada satu sajak yang sempat menarik perhatian ku, kertasnya pun kelihatan sudah lebih lusuh dibanding kertas yang lainnya.. uupppssss…aku bahkan lupa kapan aku menulisnya… hanya tertera bulan Oktober… aku berhenti sebentar untuk membaca sajak itu:

kalau baju putihmu malah membuat takut kaum proletariat
lalu apa artinya sumpah…..?
apakah sumpah mampu mencegah keyakinan dan kegigihan berubah…?
pulanglah… akan kukatakan pada mereka kalau semuanya sudah

aku tak sebangsa denganmu…
aku tak sebahasa ibu denganmu…
aku tak minum dari mata air mu…
jadi…. ingatlah, aku kritis bukan loyalis…!

anak muda harus maju menyerbu
jangan sembunyi tangan setelah melempar batu

jangan ijinkan rakyat negara ini hanya menjadi

ROMBENG….. ROMBENg….. ROMBENG (suara tukang rombeng mengejutkanku)…..
cepat-cepat kubawa tumpukan kertasku itu, ternyata setelah ditimbang beratnya 2 kilo.. jadi aku dapat Rp. 2000.. akupun langsung menuju kios rokok terdekat… kutukarkan hasil rombengan kertasku itu dengan tiga batang rokok…. puassssss rasanya

sementara aku sedang menikmati nikmatnya rokok sambil buang air besar…, tiba2 aklu teringat kalau aku tadi lupa menyimpan kertas tua berisi sajak tak kukenal itu.. anjing… dasar pelupa, mata duitan, aku menggerutu pada diriku sendiri….

cweeeplook… tahi ku berbunyi memecahkan kemarahan dan lamunanku…. akupun bersyukur… untung PERDA anti rokok tidak menyatakan bahwa WC alias toilet merupakan kawasan bebas rokok… bila tidak, hilanglah semua kenangan pada sajak-sajak tuaku yang telah terombeng seharga Rp. 2000

(abner paulus)

Ada_ada

Oktober 15, 2009

sudut beranda
dari tidakberada menjadi ada

kesedihan bukanlah noda
kenapa setiap berada menganggap tidakberada seolah berbeda

kembali ke sudut beranda
kuharap berada tetaplah tidakberada

biarlah getar jiwa mengandung nada
tetaplah tidakberada dalam dada

berada atau tidak berada
tidak ada yang berbeda

semua bergantung apa dalam dada

Kagum

Oktober 15, 2009

Setelah Sekian Lama tidak pernah bercermin… tadi tanpa sengaja saya bercermin agak lama setelah mandi..
lalu saya tersenyum2 dan terkagum…..
bukan karena wajah saya (karena wajah saya bahkan jauh dari pas-pasan)
bukan juga karena bentuk tubuh (karena saya sama sekali tidak atletis)
Bukan juga Karena Ukuran “Anu yang wahh” (karena itu bukan kunci sebuah kepuasan)

tetapi karena saya menyadari bahwa kepala manusia terdiri dari beberapa lubang
1. Lubang Yang Bisa Digunakan terbatas oleh manusia…., namanya lubang hidung. kita bisa menahan napas bila tidak ingin menghirup sebuah bau… tapi kita tidak sepenuhnya berkuasa atas lubang itu
2. Lubang Yang bisa di gunakan sesuka hati oleh manusia tapi di atur oleh Tuhan…, Namanya mata, kedipan mata kita di atur secara alami oleh Tuhan
3. Lubang yang yang digunakan sesuka hati oleh kita…., namanya mulut… bahkan kita seringkali menggunakannya secara berlebihan
4.lubang yang di atur sepenunhnya oleh Tuhan, namanya lubang telinga…., kita tidak bisa menolak untuk mendengar, semakin kita menolak semakin apa yang kita dengar mempengaruhi pemikiran kita

sejanak saya terkagum2.. , Tuhan ingin kita mendengar sebanyaknya…… agar ketika melihat seuatu kita tidak tergoda…, agar ketika mencium harum sesuatu yang enak kita tidak menjadi rakus…., agar kemudian kita dapat mengukur apa yang kita keluarkan lewat mulut kita.

andai tak ada kata maka berhentilah detak peradaban manusia….., namun mereka yang memperkosa kata telah membunuh kebenaran…!!!

bukan apa yang masuk (mendengar, melihat, mencium) tapi apa yang keluar (mengatakan) itu yang penting…

pada kaca aku berbisik…. Bantu aku menjaga Mulut

(abner Paulus)

Negeri tempat sampah

Oktober 15, 2009

mungkin saja ada di antara kita yang pernah melintas di daerah pembuangan sampah atau tumpukan sampah…, merasa jijik lalu cepat2 menutup hidung…. dan bila kita sempat melihat para pemulung yang dengan serius sedang mencari2 sampah yang mungkin saja bisa di jual lagi untuk sekedar membeli sebungkus nasi tempe, kita akan berkata dalam hati kok bisa ya mereka itu hidup dalam tumpukan sampah…?
kejadian ini saya alami kemarin saat sedang mendorong motor saya karena kehabisan bensin melintas di sebuah Tempat pembuangan sampah…, seorang pengendara mobil yang mendahului saya cepat2 menaikan kaca mobil mewahnya sambil tersenyum sinis dan menggeleng-gelengkan kepala sambil memperlambat mobilnya memperhatikan para pemulung di Tempat Pembuangan sampah itu.
sejenak kesadaran saya melayang pada beberapa kenyataan:
ada sebuah Pabrik boneka berisi kapas di daerah Jawa Barat yang cukup besar…, pabrik itu ternyata milik orang Korea, semua bahan baku pabrik itu dikirim dari Korea, ternyata setelah diselidiki si pengusaha Korea itu membuat pabrik di Indonesia karena di Korea ada batasan pembuatan pabrik yang sama.. boneka2 yang berlabel made in Indonesia itu ternyata mahal harganya dan hanya untuk di eksport ke luar negeri.. namun cobalah dilihat buruh pabriknya berupah rendah dan limbah2 hasil pabrik itu dibuang di Indonesia… dan ternyata di Jawa barat bukan hanya satu pabrik seperti itu, bahkan ada pabrik sepatu Bot khusus untuk tentara Amerika yang dibuat di Indonesia, tetapi bahan bakunya di dikirim dari luar negeri dan Limbahnya ditinggalkan di Indonesia
beberapa waktu lalu ada pengiriman besar-besaran mesin bekas dari singapura ke Indonesia…, barang-barang rongsokan itu di pakai di Indonesia layaknya barang baru… atau lihatlah import kendaraan bermotor “kelas dua” dalam jumlah besar ke Indonesia…, mlihat harga yang murah lalu menetslah air liur kita.
lalu lihatlah juga produk yang kita import dari luat negeri… yang kita anggap praktis itu ternyata tidak bersahabt dengan alam, sementara negera2 maju malah memakai produk2 tradisional kita yang bersahabat dengan alam…
lebih parahnya lagi nich… begitu banyak kekayaan alam kita yang dikeruk olah negara-negara asing.. dan meninggalkan kita dalam kubangan limbah dari kekayaan alam kita sendiri, kita hanya dapat limbahnya…, Ya LAPINDO dan Freeport Contohnya
masih banyak pola-pola yang dipakai oleh negara-negara maju dan para pemilik modal asing untuk mendistribusikan sampah-sampah ke negeri kita ini…

saat kesadaran saya kembali, saya sadar bahwa saya, pengembara mobil itu, atau mungkin kita semua tidak pernah sadar, kalau negara kita sudah dijadikan tempat pembuangan sampah.

di negeri tempat sampah ini, kita semua tidak ada bedanya…, yang membedakan hanya sampah apa yang kita kumpulkan..

ya.. ini hanyalah imanjinasi saya yang lagi capek mendorong motor yang kehabisan bensin karena mesin bobroknya yang boros… imajinasi tentang sampah di negeri tempat sampah mohon di maafkan..!!!

(abner Paulus)

Entahlah

Oktober 15, 2009

senandung lembut janganlah berkabut
agar mata tak sekedar melihat
agar ucap tak sekedar menjadi sampah mulut

dari bumi lahirlah kehidupan dan kematian, kembar beriringan
telah DIA tentukan kapan waktu kedatangan berubah menjadi kepergian

Hanyut jiwa di bawa tanda tanya nan kebingungan

kalau DIA yang tentukan
Apakah DIA yang disalahkan…?

Bukankah Kenyataan adalah buah tangan…?

Entahlah..!!!

(abner Paulus)

Ironis

Oktober 15, 2009

Duduk termenung
musik gambus mengalun mengiang
bahagia hidup jadi orang kampung
mengecap budi damai terkenang

duduk melamun seperti samudera dalam sampan
kaum muda jangan lupa daratan
lihatlah si munafik diujung menara
seolah filsuf berabad bertapa
anak manusia harus berbudaya
jangan lupa adat istiadat sarat ilmu nan kaya

tapi saksikanlah…..
semerbak budaya sepi berkelana
anak manusia melayang lupa menyelam
ketika karam sepilah merana
kapakah dendang damai dari syair adat mampir ketelinga…?
aku gemetar di sudut plaza bertingkat-tingkat
tempat mereka menjual harga diri bangsa yang mangkat

(Abner Paulus)

kalo sonde mangarti na jang marah wo…
ini be tulis cuma mau isi waktu sa, daripada tanganga bodo
ini carita tentang ana dari kampung paling yang paling udik su
dia pung muka talalu unus mati, baru su begitu sonde parna sekolah, su bagitu jarang mandi, karena di dong pung kampong sumber air belom dekat… pokoknya dia model paling ke puruk su
ya… itu manurut ana gaul dong pung pendapat…, soalnya be sonde pernah omong dia bagitu karna be ju dari kampong

na.. satu kali ni batafeo pi (o..ho.., be lupa dia pung nama batefeo) di kota
na lu tau to.., batafeo baru datang dari kampung jadi dadolek mamati sa… su bagitu batafeo paksa ko mau masok di Gedung DPRD l, na jelas sa satpam pasti tahan dia to..
batafeo tanya : “woe om kanapa tahan beta ow…?”
satpam dia bilang: “maaf di sini bukan tempat anda”..
woe batafeo darah naek ko tanya lai: “ko kenapa bukan be pung tempat, kenapa be sonde boleh masuk..? ini gedung wakil rakyat to..? nah be mau masok ko katumu deng be pung wakil, be ada mau kas tau dong satu barang…”,
ma kawan dong tau to.. satpam sonde mungkin kasih ijin sang dia, satpam hanya bilang “LU SONDE MANGARTI NA, JANG MARAH”.
Batafeo duduk tanganga di depan itu kantor DPRD, Batafeo bingung, masa hanya mau katumu wakil sa begini sussah, bukannya karena dong wakil sa makanya dong harus hormat ketemu deng ketong sebagai rakyat…? Batafeo sonde habis pikir… padahal dia datang ko mau lapor kalo ada orang asing yang tipui dong satu kampong ko ambil dong pung tanah dan kebon… sementara Batafeo duduk tanganga di depan kantor DPRD… ada sedan mewah keluar dari parkiran, di dalam tu sedan ada itu orang asing dan satu orang lai… setelah Batafeo inga-inga tarnyata itu orang yang satu tu, orang yang dia coblos waktu PEMILU kemarin… Batafeo lari makamiung kajar tu sedan sampa dapa ko tahan di depan memang..
itu pengusaha deng anggota dewan talalu marah… trus kaluar ko mau mangamok sang Batafeo.., tapi sebelum dong sempat mangamok..,
Batafeo batareak dong “Dasar Bsong ni PANIPU… Basong sakongkol ko mau tipu katong wa…?”…….. anggota dewan angka bicara:” he bu omong tau ko sonde…? ini demi signifikansi dari era otonomi daerah yang mengarah pada standarisasi ekuavalen pembangunan, agar tidak terjadi degradasi kualitas investasi… dst”.(pokoknya bahasa tinggi samua)…….
dengar itu kata-kata dong batafeo jadi pusing setenga mati… dia sama sekali sonde mangarti….
jadi Batafeo tanya: “maksudnya apa…?”
sambil jalanmasuk kembali dalam mobil.., itu anggota dewan bilang : ” KALO SONDE MANGARTI NA JANG MARAH…!!!!”
itu oto sedan lanjut jalan terus, hanya kasi tinggal abu deng kebingungan buat Batafeo… Sonde ada Jawaban

Batafeo talalu sedih….

Sepanjang jalan pulang pi kampong… Batafeo sonde tau mau bilang apa di orang tua dong di kampong, kalo ternyata dong su kena tipu manta-manta itu semua hanya karena dong sonde mangarti…

sampe di kampung, orang kampung deng tua adat dong tanya di Batafeo…, karmana dia pung hasi kataumu deng wakil rakyat…?
Batafeo hanya bilang di dong bagini:
“dong naek oto sedan, ktong jalan kaki
dong tinggal di kota, ktong tinggal di kampung.
dong ada doi, ktong sonde ada doi
dong barisi dan wangi, ktong dadolek deng bau
itu samua karena,
dong sekolah, ketong sonde sekolah.
makanya dong pikir dong pintar, katong bodo.”

orang kampung deng tua dat dong bingung denga apa yang Batafeo omong…
jadi dong tanya: “Batafeo.. ktong sonde mangarti.. lu pung maksud apa…?”

Batafeo hanya bilang :” KALO SONDE MANGARTI NA JANG MARAH…!!!!”

(abner paulus)

Sajak Kaku

Oktober 15, 2009

takut aku tuliskan sajak kebanggaan
jangan-jangan berubah menjadi nyanyian congkak
buat orang-orang melirik sinis lalu pura-pura batuk
walau mungkin penuh resonansi nada keseimbangan

biarlah sajakku penuh kegelisahan
biarlah sajakku menjadi tumpukan ambigu
menyatu dengan kepapahan yang tersistem
menyatu dengan kaki-kaki pelajar cilik tanpa sepatu

jangan kau puja sajakku.. tak akan menjadi dewa
sajakku hanya sekedar luapan rasa kecewa
coba geliatkan kewajaran yang beku membatu
seperti pelacur berharap menjadi ratu

bila kau baca sajakku jangan kau ejek aku
aku hanya meminjamkan tanganku
kegelisahan dan kegetiranlah yang memberi komando

aku, dia, kau, mereka, kita, dan sajakku hiduo dalam dunia yang sama
dunia dlam sajak-sajak yang kaku
beku membatu
ini sajakku

(Abner Paulus Raya)