Harga Kopra di Adonara Rp 2.000
Maret 30, 2009
LARANTUKA, PK–Masyarakat di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur (Flotim) mengeluh rendahnya harga kopra hanya Rp 2.000,00/kg. Harga ini dinilai tidak sebanding dengan harga beras Rp 6.000,00/kg. Kondisi ini mengakibatkan para petani di Pulau Adonara enggan mengolah kelapa menjadi kopra dan lebih memilih menjual buah kelapa atau membiarkan kelapa membusuk di kebun. Bahkan, ada yang menebang pohon kelapa lalu menjual batangnya untuk dijadikan bahan bangunan. Kepala Desa (Kades) Sagu, Kecamatan Adonara, Ridwan Bapa Kamba (46), ditemui di kediamannya di Pulau Sagu, Sabtu (14/3/2009) membenarkan hal itu. Ia mengatakan, kopra di Flotim tahun 1980-an bernilai jual tinggi sehingga dapat memakmurkan masyarakatnya. Bahkan dengan kopra, Pulau Adonara menjadi terkenal. Namun saat ini dengan jatuhnya harga kopra, kata Kamba, masyarakat enggan membuat kopra. Bahkan masyarakat lebih memilih menanam tanaman umur pendek untuk menukarkannya dengan beras ketimbang membuat kopra. “Sekarang harga kopra tidak lagi sebanding dengan harga beras. Harga kopra Rp 2 ribu/kg sedangkan beras Rp 6 ribu/kg. Kondisi ini membuat masyarakat memilih menanam tanaman umur pendek lalu membiarkan kelapa mereka membusuk di kebun atau memilih menjual batang kelapa untuk bahan bangunan,” kata cucu Raja Adonara ini. Mengenai mekanisme penjualan kopra di Desa Sagu, Kamba mengakui, penjualan langsung kepada pengusaha melalui pengumpul yang membelinya di kebun lalu menjualnya kepada pengusaha. “Kita tidak bisa menentukan harga karena sudah ditentukan pengumpul dan pengusaha,”kata Kamba. Ia menjelaskan, panen kelapa dan pengolahan kopra dilakukan masyarakat setiap tiga bulan sekali. Dan setiap tiga bulan puluhan ton kopra terjual. Namun hasilnya masyarakat tetap miskin karena harga kopra sangat rendah. “Walau hasil kelapa banyak tapi kalau sudah jadi kopra beratnya sangat sedikit. Karena rata-rata tiga sampai empat buah kelapa baru dapat satu kilogram kopra yang cuma dihargai Rp 2.000,00/kg. Harga ini tidak terhitung dengan biaya transportasi, biaya kerja dan biaya operasional lain. Karena itu, kopra tidak bisa membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Padahal Desa Sagu paling terkenal dengan kopra-nya dan hampir setiap kebun ditanami kelapa,” kata Kamba. Kepala Dinas (Kadis) Kehutanan dan Perkebungan Kabupaten Flotim, Tonce Matutina, S.H, dikonfirmasi terkait keluhan masyarakat Pulau Adonara, tidak berada ditempat. “Bapak sedang ke Kupang,” kata staf di kantor itu, Rabu (18/3/2009). (*)
| Sabtu, 07 Pebruari 2009 05:13 | |
| Pemprov NTT akan Bangun Pelabuhan Feri di Adonara | |
| sumber: antaranews.com | |
Larantuka, GhaboNews – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berencana akan membangun sebuah pelabuhan feri di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, untuk memperlancar arus penumpang dan barang antarpulau di ujung timur Pulau Flores itu.
Kepala Dinas Perhubungan NTT, Harry Theofilus, mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan survei lokasi untuk rencana pembangunan pelabuhan feri tersebut.
Menurut dia, wilayah Deri di Kecamatan Ile Boleng di bagian selatan Pulau Adonara cukup representatif bagi pembangunan pelabuhan penyeberangan. “Kemungkinan tahun 2010 baru terealisasi, karena kami baru ajukan anggarannya ke departemen dalam tahun ini,” kata mantan Kadis Kimpraswil Kota Kupang itu.
Gubernur Lebu Raya menambahkan, pemerintah provinsi juga mempertimbangkan pengembangan pelabuhan laut Larantuka, serta pembangunan fasilitas jalan dari Tobilota menuju Sagu, di bagian utara Pulau Adonara.
Adonara Bakal Miliki Pelabuhan
MedanBisnis – Larantuka
Pemprop Nusa Tenggara Timur (NTT) berencana membangun pelabuhan feri di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur untuk memperlancar arus penumpang dan barang antarpulau di ujung timur Pulau Flores itu. Demikian dikemukakan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, Jumat (6/2), menjawab keluhan Bupati Flores Timur, Simon Hayon soal minimnya sarana perhubungan serta buruknya fasilitas jalan di Flores Timur yang dibangun dengan menggunakan APBD NTT.
Selama ini, lanjutnya, masyarakat di Pulau Adonara yang bepergian ke Kupang, misalnya, harus melalui pelabuhan penyeberang feri di Waibalun Larantuka atau melalui Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata di Pulau Lembata. “Kondisi yang dihadapi masyarakat Pulau Adonara ini menimbulkan ekonomi biaya tinggi karena harus membayar ongkos tambahan pada bus laut dan angkot menuju pelabuhan pemberangkatan,” tuturnya.
Lebu Raya menambahkan, pemerintah propinsi juga mempertimbangkan pengembangan pelabuhan laut Larantuka serta pembangunan fasilitas jalan dari Tobilota menuju Sagu di bagian utara Pulau Adonara membuka isolasi di kawasan tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan NTT, Harry Theofilus yang dihubungi secara terpisah mengaku pihaknya sedang melakukan survei lokasi bagi rencana pembangunan pelabuhan feri tersebut. Menurutnya, wilayah Deri di Kecamatan Ile Boleng di bagian selatan Pulau Adonara cukup representatif bagi pembangunan pelabuhan penyeberangan.
“Kemungkinan tahun 2010 baru terealisasi karena kami baru ajukan anggarannya ke departemen dalam tahun ini,” ungkap mantan Kadis Kimpraswil Kota Kupang itu. (ant)
Sejumput Impian Para “Ina” dari Adonara
Maret 30, 2009
Oleh Evy Rachmawati
Hampir empat belas tahun lamanya Mariam Bengataka (43) menanti kepulangan suaminya dari merantau ke Malaysia. Tak ada kabar, apalagi kiriman uang dari suaminya. Selama itu pula ia harus membanting tulang untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil.
Untuk menghidupi keluarganya, perempuan yang bermukim di Desa Pepageka, Kecamatan Kelubagolit, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, ini sehari-hari membuat kopra. Di sela-sela kesibukan mengasuh anak, ia juga menenun. Dalam sebulan, ia membuat empat sarung tenun seharga Rp 100.000 per lembar, itu belum dikurangi biaya pembelian benang.
Nasib serupa dialami banyak perempuan lain di daerah itu. Halimah Ose (40), misalnya, telah 10 tahun ditinggal suaminya merantau ke Malaysia tanpa kabar. Untuk menghidupi dua anaknya, ia menenun kain sarung tiap hari. ”Saya sudah seperti janda, tidak tahu suami masih hidup atau tidak,” tuturnya lirih.
Rugayah Hamdan (40), warga Kampung Boleng, Adonara, juga berperan sebagai kepala keluarga setelah suaminya berhenti bekerja sebagai nelayan karena lumpuh akibat stroke lima tahun silam. Untuk membiayai pengobatan suaminya dan menghidupi delapan anaknya, ia jadi perajin tenun dan penjual ikan.
Aktivitas menenun dimulainya sejak pukul lima pagi, seusai membersihkan rumah dan memasak. Bila ada perahu datang, ia bergegas ke pantai untuk berebut membeli ikan hasil tangkapan nelayan. Dengan modal Rp 100.000, ia mendapat satu bak ikan teri yang kemudian dijualnya dengan berjalan kaki keliling kampung naik-turun bukit.
Hasil penjualan ikan berkisar Rp 120.000 per hari, belum termasuk ongkos ojek bila harus berjualan ke daerah pegunungan. Jadi, laba bersihnya per hari hanya sekitar Rp 10.000. Kadang ia menjual ikan teri asin ke pasar yang bisa ditukar uang atau hasil kebun. Sepulang dari berjualan ikan, ia kembali menenun dan mengurus rumah tangga.
Kepala keluarga
Beragam kisah pilu dialami para ibu atau biasa disapa ”ina” di Adonara. Ketiadaan peran laki-laki sebagai penanggung jawab keluarga terhadap keluarga-keluarga miskin merupakan kehancuran secara ekonomi. Banyak ”ina” tidak memiliki rumah dan harus menumpang di rumah kerabat, atau punya rumah tetapi kondisinya tidak layak huni.
Tidak hanya keluarga itu yang langsung jatuh ke dalam jurang kemiskinan, tetapi kemiskinan juga jadi nasib yang harus ditanggung generasi selanjutnya.
Menurut Koordinator Sekretariat Nasional Program Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Nani Zulminarni, anak-anak ditarik dari sekolah lantaran harus bekerja untuk keluarganya atau karena ibu, yang jadi kepala keluarga, tidak mampu membayar biaya sekolah.
Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, lebih dari 13 persen rumah tangga di Indonesia dikepalai perempuan. Para perempuan itu jadi kepala keluarga tidak hanya karena mereka bercerai atau suami meninggal, tetapi juga lantaran suami merantau tanpa kabar berita, suami cacat, atau orang tua meninggal sehingga harus menanggung adik-adiknya.
Nani menambahkan, nilai sosial dan budaya yang berlaku meminggirkan para perempuan kepala keluarga itu serta mayoritas program pembangunan belum menjangkau mereka. Di Adonara, praktik pemberian mas kawin gading menyebabkan posisi perempuan lemah bahkan kadang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Mereka umumnya berusia 20-60 tahun, buta huruf, dan tak pernah duduk di bangku sekolah dasar. Mereka menghidupi satu sampai enam orang, bekerja sebagai buruh tani dan sektor informal dengan pendapatan rata-rata Rp 7.000 per hari.
Pekka
Untuk itu, Program Pekka mulai dikembangkan tahun 2000 didukung dana hibah dari Japan Development Fund melalui Bank Dunia. Program itu merupakan hasil evaluasi Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang kini dikenal sebagai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri pedesaan. Dalam evaluasi itu, PPK dinilai belum banyak menyentuh perempuan kepala keluarga sebagai kelompok termiskin.
Program Pekka yang awal terbentuknya didukung Departemen Dalam Negeri dan Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan itu mulai dilaksanakan Desember 2001 di empat provinsi, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Visi Program Pekka adalah menciptakan tatanan masyarakat sejahtera, adil jender, dan bermartabat. Kini, lokasi program bertambah menjadi 8 provinsi.
Di Nusa Tenggara Timur, Program Pekka dimulai pada tahun 2002. Sejauh ini, program itu dinikmati 1.682 anggota yang tergabung dalam 70 kelompok di 42 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Setelah melalui pendampingan dan pelatihan difasilitasi pendamping lapangan, sejak tahun 2003-2008 mereka telah menerima dana Rp 2,69 miliar untuk usaha ekonomi produktif, pembangunan sarana, perbaikan rumah anggota Pekka, beasiswa dan biaya operasional.
Sampai tahun 2008, Pekka di NTT telah mengelola tujuh lembaga keuangan mikro (LKM) dengan jumlah perputaran modal untuk tiap LKM lebih dari Rp 2 miliar dan jumlah pinjaman tiap kelompok usaha ekonomi produktif berkisar Rp 3 juta sampai ratusan juta rupiah. LKM-LKM Pekka ini juga mengelola dana santunan kematian bagi anggota Pekka sebesar Rp 1 juta per orang dengan iuran Rp 15.000 per bulan.
Usaha berkembang
Perbaikan ekonomi telah dinikmati para anggota Pekka, termasuk di Adonara. Mariam Bengataka, misalnya, setelah bergabung dengan Pekka pada tahun 2002, ia tidak hanya mengandalkan hasil pembuatan kopra dan menenun. Dengan modal pinjaman dari Pekka, ia membuka warung yang menjual bahan-bahan kebutuhan pokok.
Usahanya pun berkembang pesat. Setelah pinjaman lunas, ia berutang lagi untuk membangun rumah yang lebih layak huni. Keberhasilan berwirausaha dan keaktifannya berorganisasi malah menimbulkan ketidaksenangan suaminya yang baru pulang setelah 14 tahun merantau. ”Saya dituduh macam-macam dan sering dipukuli,” ujarnya.
Karena tak tahan dengan perlakuan suaminya, Mariam keluar dari rumah bersama anak-anaknya dan pulang ke rumah orangtuanya. Warung dan rumah hasil jerih payahnya ditempati kerabat suaminya. Uang yang diberi suaminya pun diminta lagi. Meskipun demikian, Mariam optimistis mampu menata kembali ekonomi keluarganya dari nol.
Perbaikan ekonomi juga dirasakan sejumlah anggota Pekka lainnya. Rugayah, misalnya, tidak hanya mampu memperbaiki ekonomi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, tetapi juga bisa membangun rumah berdinding batako. Tempat tinggal awal yang berdinding anyaman bambu dijadikan dapur dan kamar.
Manfaat dari Pekka yang dinikmati para anggotanya bukan hanya berupa perbaikan ekonomi, melainkan juga peningkatan kapasitas mereka. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, para anggota Pekka telah keluar dari buta huruf, memahami situasi politik, kepemimpinan dan hak-hak mereka, punya kepercayaan diri dan keberanian menyuarakan aspirasi mereka.
Meningkatnya pemahaman politik dan kepemimpinan juga dirasakan Petronela Pene (39) yang jadi kepala keluarga setelah suaminya meninggal dunia karena dibunuh. Perempuan petani ini maju dalam pemilihan kepala desa dan terpilih sebagai Kepala Desa Nesa Nula, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur.
Bagi para anggota Pekka, terpilihnya Petronela sebagai kepala desa bukan sekadar kemenangan politik lokal. Kemenangan itu sekaligus pengakuan atas kemampuan dan kemandirian para ”ina” yang jadi kepala keluarga.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/20/0113498/sejumput.impian.para.ina.dari.adonara
Tari Hedung
Maret 10, 2009
anak Gema lagi menari Hedung

Anak GEMA

Tombak
Lamaholot
September 4, 2008
Lera Wulan Tana Ekan Kaka Bapa-Ama Nene
Ni Laga Duli Pali
Koten, Kelen, Hurit, Maran
Lera Wulan Tana Ekan:
Sang Pencipata atau yang maha kuasa atau wujud tertinggi dan yang memberikan hidup. Kepercayaan orang Lamaholot demikian, yang memberi makan adalah kekuatan dari atas (Matahari , Bulan, Awan Gunung dan Hujan) yang bertemu dengan kekuatan yang ada di bumi menumbuhkan tanaman dan memberi makan kepada manusia. Ini adalah konsep / atau refleksi teologis dari agama kosmis dari masyarakat petani ladang.
Kaka Bapa-Ama Nene (Leluhur):
Ni Laga Duli Pali (Batas-batas Wilayah) dipahami sebagai Lewotana (Kampung dan Tanah) adalah, sebuah konsep persekutuan yang dibangun atas dasar iman dan kepercayaan kepada leluhur (diwariskan secara turun temurun) dan dijaga oleh satu badan yang disebut Koten-Kelen-Hurit-Maran dan dalam satu wilayah (Ni Laga Duli Pali) tertentu. Wilayah ini merupakan territorial budaya, ekonomi dan politik. Oleh kerena itu, dalam sejarah masa lalu sering terjadi perang dan pada saat ini konflik antara suku maupun vertical terus berlansung karena ada nuansa eksistensial di sini.
Koten Kelen Hurit Maran: Lembaga yang berhak menjalankan ritus adat mengenai tanah. Mereka hanya berhak menjalankan ritual adat pada wilayah lewotananya saja, tidak bisa di wilayah lewotana yang lain. Dalam aplikasinya peran-peran social masing-masing dimandatkan pada persekutuan yang lebih kecil atau disebut Marga. Jadi dalam komunitas social Lamaholot ketika terjadi pembunuhan hewan korban marga-marga dimaksud akan menjalankan peran melalui symbol: Koten akan memegang kepala hewan kurban, Kelen memegan bagian ekor, hurit melakukan pemotongan, dan maran bertugas mengucapkan doa kepada leluhur ¡§ kaka bapa ¡V ama nene dan sang pencipta ¡§ Lera wulan Tana ekan ¡§. Ritus-ritus ini masih sangat nampak dalam berbagai kegiatan seperti pembukaan lahan, penanaman, pemberantasan Hama, panen dan menyimpanan bibit.
2. Sistem Penguasaan dan Pengalolaan Tanah:
Dalam system pengelolaan tanah, masyarakat Lamaholot mengenal dua konsep wilayah kelola sebagai satu-kesatuan. Pertama adalah Etang yakni, hamparan luas yang dimiliki oleh komunitas yang terdiri dari beberapa marga. Etang ini, kemudian dibagikan kepada warga untuk di garap sebagai lahan pertanian yang disebut Newa. Newa umunya diklasifikasi atas dua yakni, NiKa leun mapa keban (Kebun Besar) dan Nika Dore (kebun kecil). Jadi konsep penguasaan masyarakat atas lahan adalah territorial kampung (lewotana) dan etang-nura newa itu secara kolektif.
Hal menarik bahwa dari seluruh proses pengelolaan bahwa perempuan mempunyai peran yang cukup menonjol ketika berusan dengan pemeliharaan dan penyediaan bibit. Kaum perempuan mempunyai kewenangan penuh mengontrol seluruh hasi panen. Ibu-ibu yang arif tidak akan memboroskan hasi panennya. Tidak ada cerita bahwa ibu-ibu ini karena kitiadaan bahan makanan lalu mengkonsumsi bagian untuk bibit. Seorang ibu yang menhabiskan bibit untuk dikonsumsi diibaratkan telah membunuh kelansungan hidup keluargannya. (Wawancara dengan Melky Koli Baran)
Sumber : http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/inisiatif/artikel.php?aid=22428
Gunung Ile Boleng
Agustus 27, 2008
Keterangan Umum
Nama : G. Ili Boleng Baca entri selengkapnya »
Adonara Layak Jadi Kabupaten
Agustus 27, 2008
Adonara Layak Jadi Kabupaten
Fredryk Tokan
Membaca berita harian lokal Pos Kupang, yang berjudul “UGM Kaji Pembentukan Kabupaten Adonara” (Pos Kupang, 10 April 2008) mengisyaratkan penulis bahwa Adonara memang pantas dikaji oleh UGM. Dari 114 proposal pemekaran yang diajukan oleh kabupaten induk untuk dimekarkan di Indonesia, Baca entri selengkapnya »
Mas Kawin Gading “yang Tak Pernah Retak”
Agustus 27, 2008
Senin, 25 September 2006
Mas Kawin Gading “yang Tak Pernah Retak”
KORNELIS KEWA AMA
Sejumlah tokoh adat dan agama di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memperkirakan budaya pemberian mas kawin gading gajah suatu saat akan lenyap. Baca entri selengkapnya »
POTONGAN – POTONGAN KISAH TENTANG ADONARA
Agustus 27, 2008
diambil dari berbagai sumber
Asal Nama Adonara Baca entri selengkapnya »
JIKA ADAT MEREKAT UMAT
Agustus 27, 2008
MENURUT statistik tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia sebesar 200 juta. Dari jumlah itu, sebanyak 87,55% memeluk agama Islam. Tapi itu bukan berarti berlaku untuk semua provinsi, kabupaten, dan kota. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya. Di wilayah Indonesia bagian tengah itu, warga muslimnya justru minoritas, 8,8% (351.453 jiwa), dari 3.975.192 jiwa penghuni NTT. Baca entri selengkapnya »