ini bukan ucapan selamat… ini peringatan
agar kekuasaan tak berujung pada kebablasan

boleh kau ambil mayoritas kertas suara bersetempelkan demokrasi
yang hingga hari ini ku anggap tak berarti
toh… di negeri ini banyak yang mati
mati kelaparan, mati menahan harap di negeri sendiri

ku kirimkan setiap jelmaan impian kaum papah untuk patahkan kesombonganmu
menari meliuk menahan cemas, perhatikan… mereka berharap menatapmu
jangan lagi kau kaku.. lekas angkat beban mereka kepundakmu
jangan leha lalu mengantuk di kursi istana empukmu

kukatakan padamu….
ini Bukan Ucapan selamat… ini peringatan
agar kekusaan tak berujung pada kebuasan

silahkan saja berjuta pemuka agama berdiri mendengar sumpahmu
taukah mereka suara rakyat adalah suara Tuhan…?
atau kau hanya pedulikan mereka yang dulu membantu…?
sekarang buas berebutan menghisap nikmatnya darah kekuasaan

sudahlah.. jangan tipu-tipu.., kami tahu siapa kau
coba pasang telingamu dengar apa yang kami mau
jangan kau anggap remeh walau kami bau
kami adalah kepalan kedaulatan yang menyatu hancurkan otak dan hati yang batu

sekali lagi kutekankan
Ini bukan ucapan selamat… INI PERINGATAN
agar jangan kau gunakan kekuasaanmu hanya untuk kepalsuan

AWAS… KAU

(abner Paulus)

Sajak Rombeng

Oktober 21, 2009

mumpung pagi ini jadwalnya tukang rombeng lewat… kukumpulkan kertas-kertas dan buku-buku tulis tak terpakai, ya… kalau sekilo Rp.1000 kan lumayan buat beli beberapa batang rokok untuk menemani buang air besar pagi ini (inilah kemerdekaan yang sesungguhnya.. waha..ha..ha)..
tetapi aku tercengang, setumpuk kertas berbagai macam bentuk dan ukuran terikat oleh sebuah pita berwarna biru yang sudah usang dan luntur.. aku ingat betul apa isi tumpukan kertas itu.. puluhan sajak jaman seragam merah-putih hingga kuning-biru ku.. sajak-sajak yang berisi cinta yang malu-malu hingga sajak yang berisi kemarahan tanpa kendali, buasss…

dalam tumpukan sajak itu… ada satu sajak yang sempat menarik perhatian ku, kertasnya pun kelihatan sudah lebih lusuh dibanding kertas yang lainnya.. uupppssss…aku bahkan lupa kapan aku menulisnya… hanya tertera bulan Oktober… aku berhenti sebentar untuk membaca sajak itu:

kalau baju putihmu malah membuat takut kaum proletariat
lalu apa artinya sumpah…..?
apakah sumpah mampu mencegah keyakinan dan kegigihan berubah…?
pulanglah… akan kukatakan pada mereka kalau semuanya sudah

aku tak sebangsa denganmu…
aku tak sebahasa ibu denganmu…
aku tak minum dari mata air mu…
jadi…. ingatlah, aku kritis bukan loyalis…!

anak muda harus maju menyerbu
jangan sembunyi tangan setelah melempar batu

jangan ijinkan rakyat negara ini hanya menjadi

ROMBENG….. ROMBENg….. ROMBENG (suara tukang rombeng mengejutkanku)…..
cepat-cepat kubawa tumpukan kertasku itu, ternyata setelah ditimbang beratnya 2 kilo.. jadi aku dapat Rp. 2000.. akupun langsung menuju kios rokok terdekat… kutukarkan hasil rombengan kertasku itu dengan tiga batang rokok…. puassssss rasanya

sementara aku sedang menikmati nikmatnya rokok sambil buang air besar…, tiba2 aklu teringat kalau aku tadi lupa menyimpan kertas tua berisi sajak tak kukenal itu.. anjing… dasar pelupa, mata duitan, aku menggerutu pada diriku sendiri….

cweeeplook… tahi ku berbunyi memecahkan kemarahan dan lamunanku…. akupun bersyukur… untung PERDA anti rokok tidak menyatakan bahwa WC alias toilet merupakan kawasan bebas rokok… bila tidak, hilanglah semua kenangan pada sajak-sajak tuaku yang telah terombeng seharga Rp. 2000

(abner paulus)

Ada_ada

Oktober 15, 2009

sudut beranda
dari tidakberada menjadi ada

kesedihan bukanlah noda
kenapa setiap berada menganggap tidakberada seolah berbeda

kembali ke sudut beranda
kuharap berada tetaplah tidakberada

biarlah getar jiwa mengandung nada
tetaplah tidakberada dalam dada

berada atau tidak berada
tidak ada yang berbeda

semua bergantung apa dalam dada

Entahlah

Oktober 15, 2009

senandung lembut janganlah berkabut
agar mata tak sekedar melihat
agar ucap tak sekedar menjadi sampah mulut

dari bumi lahirlah kehidupan dan kematian, kembar beriringan
telah DIA tentukan kapan waktu kedatangan berubah menjadi kepergian

Hanyut jiwa di bawa tanda tanya nan kebingungan

kalau DIA yang tentukan
Apakah DIA yang disalahkan…?

Bukankah Kenyataan adalah buah tangan…?

Entahlah..!!!

(abner Paulus)

Ironis

Oktober 15, 2009

Duduk termenung
musik gambus mengalun mengiang
bahagia hidup jadi orang kampung
mengecap budi damai terkenang

duduk melamun seperti samudera dalam sampan
kaum muda jangan lupa daratan
lihatlah si munafik diujung menara
seolah filsuf berabad bertapa
anak manusia harus berbudaya
jangan lupa adat istiadat sarat ilmu nan kaya

tapi saksikanlah…..
semerbak budaya sepi berkelana
anak manusia melayang lupa menyelam
ketika karam sepilah merana
kapakah dendang damai dari syair adat mampir ketelinga…?
aku gemetar di sudut plaza bertingkat-tingkat
tempat mereka menjual harga diri bangsa yang mangkat

(Abner Paulus)

Sajak Kaku

Oktober 15, 2009

takut aku tuliskan sajak kebanggaan
jangan-jangan berubah menjadi nyanyian congkak
buat orang-orang melirik sinis lalu pura-pura batuk
walau mungkin penuh resonansi nada keseimbangan

biarlah sajakku penuh kegelisahan
biarlah sajakku menjadi tumpukan ambigu
menyatu dengan kepapahan yang tersistem
menyatu dengan kaki-kaki pelajar cilik tanpa sepatu

jangan kau puja sajakku.. tak akan menjadi dewa
sajakku hanya sekedar luapan rasa kecewa
coba geliatkan kewajaran yang beku membatu
seperti pelacur berharap menjadi ratu

bila kau baca sajakku jangan kau ejek aku
aku hanya meminjamkan tanganku
kegelisahan dan kegetiranlah yang memberi komando

aku, dia, kau, mereka, kita, dan sajakku hiduo dalam dunia yang sama
dunia dlam sajak-sajak yang kaku
beku membatu
ini sajakku

(Abner Paulus Raya)

Terdidik

September 24, 2008

mereka suruh aku robohkan tembok
hanya memakai kertas berstempel yang mudah lapuk
mereka kira aku akan bangga lalu terbahak-bahak
nyatanya aku terbisu lalu malu tertunduk

adakah bukti hitam diatas putih saat aku pertama kali bisa berjalan..?
adakah mars yang dinyayikan saat aku memahami makna kehidupan..?
tinggalah karya dan cerita2 tentang aku saat dijemput oleh kematian

dalam sekejap aku menjadi penuh benci
benci pada sempitnya arti terdidik di negeri ini

(abner sanga)

Puisi “Orang Muda”

September 18, 2008

PUISI Orang Muda

bendera

sebenarnya orang muda tidak pernah takut….
hanya saja dia ditakut-takuti oleh aturan yang tidak rational
orang muda dipaksa berpikir tentang hari tua
dipaksa menjadi tua oleh urusan perut dan prestise masyarakat

Sebenarnya orang muda tidak ingin lari….
hanya saja kakinya diikat pada berjuta tuntutan yang berlari
orang muda ditarik kasar oleh lingkaran dekat
dipaksa menjawab pertanyaan-pertanyan yang membosankan

Sebenarnya orang muda tak ingin berhenti…
hanya saja dia dipasung oleh karena keberadaanya
orang muda dibius oleh kelicikan jaman yang mengendap-endap
dipaksa tertidur dalam sadar yang meronta-ronta

walau orang muda dipaksa berganti rupa…
tapi ingatlah saudaraku…!
dia akan kembali dengan pedang ditangannya
peradaban dan aturan-aturan yang munafik akan gemetar ketakutan
(Abner Paulus Raya… Surabaya 16 September 2008)

Sahabatku Donatus Kono

Agustus 27, 2008

Sahabat, ingatkah waktu Aksi kita di depan Grahadi
Kau katakan dengan lantang, jangan adu kami dengan polisi
Dengan baret merah bol kuning dan megaphone kau berdiri gagah
Jangan naikkan harga BBM, atau kami akan marah…!

Sahabat, ingatkah kau waktu kuminta jadi ketua PMKRI
Biarkan aku pikirkan dulu… begitu katamu
Setelah gagal….Sampai kemarin aku masih menyesali
Namun aku yakin semangat perjuanganmu tetap menderu

Sahabat, tadi kulihat kau belum juga berubah
Masih tetap Donatus Kono yang kukenal
Walau tepaksa harus numpang mobil jenasah
Aku sampai juga di asrama AKPOL

Sahabat, tak ada hal yang kebetulan
Persetan dengan Laporan-laporan Pelantikan
Aku bingung, penuh tanya, sedikit khawatir, kau sekarang CATAR
Lihatlah, aku sekarang tak bisa mengajakmu berdemo

Percayalah sahabat, semua orang harus berjuang di jalannya
Ruangan boleh berbeda, tapi pandangan bisa sama

Kalau jadi Polisi Nanti
Jangan lupakan kaum kecil yang menggigil

Akademi Kepolisian Semarang
25-08 2008

Mer(d)eka…. Mer(d)eka

Agustus 17, 2008

lihatlah aku menangis seperti seorang bayi yang baru lahir
Antara bingung, takut, bahagia, atau mungkin khawatir
lihatlah aku berlari seperti seorang balita yang baru belajar berjalan
Diantara, gontai, semangat, mencari-cari keseimbangan

aku teringat sahabatku pace Heri yang lahir dari kayanya tanah papua
tak akan pernah meminta tanpa berkarya
mengejar cita-cita untuk tanah papua tercinta
meninggal di kamar kos-kosan karena menahan lapar

aku juga teringat temanku suparno anak seorang pemulung
sekali bercerita tentang kakeknya yang seorang pejuang
menamatkan SD dengan menjual sampah berkarung-karung
sekarang ngamen di bus kota jurusan Perak terminal Bratang

tetanggaku sumartini burh di pabrik sepatu yang konon mentereng
setelah dipukuli, suaminya menikah lagi dengan janda kembang
punya seorang anak lelaki berumur enam tahun pintar bukan kepalang
selalu diusir dari sekolah karena hanya punya sepasang sepatu bolong

lihatlah aku menagis seperti seorang bayi yang baru lahir
Di antara rasa marah, benci tapi tepatnya mulai gusar
lihatlah aku berlari seperti balita baru belajar berjalan
antara kemunafikan, janji-janji kampanye, dan kepalsuan

dengarkanlah nyayian Mer(d)eka terdegar begitu lirih
diantara lorong-lorong perkampungan kumuh
sudahlah… tak perlu pidato-pidato yang membuat jenuh
inilah Mer(d)eka…!

17 agustus 2008

menyaksikan upacara di Grahadi